Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

Rasulullah SAW dikelilingi begitu banyak sahabat yang memiliki hati sangat mulia. Selama masa perjuangan memperkenalkan ajaran Islam, Rasulullah SAW selalu mendapatkan dukungan dari para sahabat yang sangat luar biasa.

Salah satu sahabat Rasulullah SAW adalah Sa'ad bin Ubadah. Seorang pemimpin Bani Khazraj dari Madinah. 

Baca Juga : Kisah Pemuda Jujur dan Miskin yang Bertemu Jodohnya Saat Terdampar di Pulau Asing

Dia dikenal sebagai seorang yang sangat kaya raya dan juga dermawan. Dia tak pernah pelit atau bahkan merasa takut hartanya habis untuk umat muslimin.

Bukan hanya Sa'ad, sang anak yang bernama Qais bin Saad bin Ubadah juga dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan. 

Keduanya selalu berbagi dengan umat muslim setiap hari dan setiap saat. Seolah tak pernah berhenti keduanya membagikan hartanya.

Beberapa ulama menyebut, Saad dan anaknya yaitu Qais selalu bersama-sama dan berlomba menghabiskan hartanya untuk umat muslimin. 

Keduanya juga selalu berada di sisi Rasulullah SAW untuk melakukan semua yang diperintahkan Allah SWT.

Hingga suatu ketika, Abu Bakar dan Umar prihatin dan merasa takut jika harta ayahnya habis jika Qais selalu membagikan harta orang tuanya secara terus menerus. Mereka menilai harta yang disedekahkan itu telah berlebihan dan membahayakan keluarga tersebut.

Mendengar Abu Bakar dan Umar berkata demikian di hadapan Rasulullah SAW, Saad bin Ubadah marah dan berkata, "Aduhai siapa yang akan menolongku. Abu Bakar dan Umar telah mengajarkan kebakhilan kepada anakku,".

Baca Juga : "Kembaran" Rasulullah SAW Terbunuh dalam Perang Uhud Saat Mengibarkan Panji Kaum Muslim

Dari kemarahan Sa'ad tersebut menunjukkan jka Sa'ad bin Ubadah pada dasarnya merupakan sosok yang sangat dermawan dan begitu suka berbagi. Dia tak pernah merasa takut akan kehilangan hartanya untuk jalan Allah SWT.

Sa'ad bin Ubadah sendiri merupakan salah seorang pemimpin dari Bani Sa'idah, salah satu suku dari kabilah Bani Khazraj. 

Sebagai pemimpin suku, dia memiliki rumah yang amat sangat luas. Hingga rumahnya disekat untuk bisa ditempati 83 orang muhajirin.

Karena pada masa itu, kaum Anshor dan Khawarij pada dasarnya saling berbagi satu sama lain. Banyak kaum Anshor yang menyekat rumahnya menjadi dua bagian, dan sebagian diserahkan untuk bisa ditempati oleh kaum muhajirin.