DPRD Kabupaten Malang, Disparbud, pihak PTPN XII serta tokoh masyarakat berpose dengan latar perkebunan teh Wonosari. (DPRD for MalangTimes)
DPRD Kabupaten Malang, Disparbud, pihak PTPN XII serta tokoh masyarakat berpose dengan latar perkebunan teh Wonosari. (DPRD for MalangTimes)

Topografi Kabupaten Malang berupa pegunungan dan perbukitan di sebagian wilayahnya telah  menjadi pilihan orang-orang Belanda. Saat itu, mereka mulai masuk wilayah Nusantara melalui ekspedisi dagang dengan bendera Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) atau Perkumpulan Dagang India Timur yang didirikan 20 Maret 1602. 

Kedatangan VOC, yang diberi kewenangan memiliki tentara dikarenakan persaingan sengit antara negara-negara Eropa, yaitu Portugis, Spanyol, Inggris, dan Prancis, dalam memperebutkan hegemoni perdagangan di Asia Timur lambat laun bergeser, dari misi  dagang menjadi politik permukiman (kolonisasi). Kerajaan-kerajaan di Jawa, Sumatera, dan Maluku jadi jajahannya saat itu.

Wilayah peninggalan Kerajaan Singhasari ini pun tak lepas dari incaran mata Belanda. Lanskap Malang yang indah dengan pegunungan dan dikelilingi sungai-sungai besar dijadikanlah gemente atau kotapraja pada 1 April 1914 oleh kolonial Belanda.

Malang pun jadi kota pemukiman Belanda yang asri sekaligus menjadi wilayah industri. Khususnya perkebunan-perkebunan yang cocok dikembangkan dengan topografinya. Kebun teh Wonosari di lereng Gunung Arjuno adalah salah satu jejaknya.

Berdiri tahun 1875 dan dikelola oleh perusahaan Belanda NV Cultur Maathappy, kebun teh Wonosari menjadi yang pertama di wilayah Jawa Timur (Jatim). Tak heran kebun teh Wonosari yang terletak di antara dua desa, yaitu Toyomarto, Kecamatan Singosari, dan Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang, banyak dikunjungi wisatawan Belanda beberapa tahun belakangan.

Perusahaan Belanda yang mengelola kebun teh Wonosari baru hengkang dari bumi Arema saat pendudukan Jepang meruyak Nusantara. Membawa misi swasembada pangan untuk negara jajahannya, Jepang pun mengganti tanaman teh di Wonosari dengan tanaman pangan.

 Teh Wonosari yang jadi primadona Eropa pun tenggelam. Sampai tahun 1945 akhirnya Jepang hengkang dari Indonesia dan kebun teh Wonosari pun diambil alih negara serta kembali ditanami teh.

Di bawah naungan PT Perkebunan Nusantara XII (Persero), kebun teh Wonosari kembali mencoba bangkit. Tak hanya memproduksi teh pilihan. PTPN XII -yang berdiri berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 tahun 1996, dituangkan dalam akta notaris Harun Kamil SH Nomor 45 tanggal 11 Maret 1996 dan disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan SK Nomor C.2-8340 HT.01.01 tanggal 8 Agustus 1996- memberi status baru untuk kebun teh Wonosari sebagai wisata agro yang menjual lanskap alam pegunungan nan indah, hamparan perkebunan teh nan eksotis, edukasi terkait tanaman teh, serta berbagai fasilitas pendukung pariwisata berbasis alam.

Geliat PTPN XII ini pun mendapat respons positif wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Dari data kunjungan wisatawan, tercatat tahun 2017 ada sebanyak 208.901 orang yang telah merasakan sensasi wisata agro kebun teh Wonosari. Kunjungan didominasi  wisatawan mancanegara dari Belanda. Disusul Prancis, Jerman, Belgia, Swiss, Denmark, Italia, Spanyol, Maroko, Arab, Tanzania, Yordania. Sedangkan dari Benua Asia dan Australia, kebanyakan wisatawan dari Singapura dan Australia.

Sayangnya, berbagai keunggulan yang dimiliki di kebun teh Wonosari dengan luasan 1.100 hektare (ha) dan 5 ha-nya dipergunakan untuk wisata agro itu mengalami mati suri dalam beberapa tahun belakangan ini. Di saat Kabupaten Malang sedang giat-giatnya membangun pariwisata berbasis perdesaan, nama kebun teh Wonosari seperti tenggelam dari radar wisatawan. 

Hal ini pun dibenarkan oleh Manajer PT PTPN XII Nelson Limbong. Dia mengatakan, wisata kebun teh Wonosari seakan mati suri. Limbong menyampaikan beberapa waktu lalu ke media bahwa wisata kebun teh Wonosari semakin tak dikenal masyarakat. 

"Selama ini wisata kebun teh Wonosari belum banyak dikenal oleh masyarakat. Jangankan Surabaya, masyarakat Malang saja mungkin belum tahu. Makanya kami ingin mengenalkan lagi melalui festival," ucapnya merujuk pada kegiatan yang dihelat  PTPN XII terkait WAW Festival awal Desember 2019 lalu.

Pernyataan itulah yang membuat Pemkab Malang dan DPRD Kabupaten Malang pun kembali bergerak untuk membangkitkan kebun teh Wonosari yang mati suri. Tak hanya berpuas dengan hasil perkebunan tehnya yang telah jadi produk ekspor selama ini, tapi juga membangunkan potensi besar pariwisatanya yang tertidur cukup lama.

Rapat kerja yang diinisiasi DPRD Kabupaten Malang dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayan (Disbudpar), pihak PTPN XII, Perhutani, dan tokoh masyarakat pun digelar. Tujuannya, membangunkan potensi kebun teh Wonosari sebagai destinasi wisata unggulan Kabupaten Malang ke depan.

"Potensinya besar jadi wisata unggulan Kabupaten Malang. Jejak itu pun telah ada sejak lama. Tinggal bagaimana pengembangannya ke depan," ujar Ketua DPRD Kabupaten Malang Didik Gatot Subroto, Kamis (9/1/2020).

Apalagi, ada  berbagai pembangunan skala nasional yang bisa mendukung pengembangan kebun teh Wonosari. Misalnya jalan tol Malang-Pandaan (Mapan) serta rencana pembangunan kawasan ekonomi khusus (KEK) Singosari.

"Ini menjadi pendukung dalam mengembalikan wisata kebun teh Wonosari Lawang. Karena itu, kami dorong Disparbud, pihak PTPN dan lainnya untuk kembali memikirkan berbagai strategi ke depannya. Kami optimistis ini bisa jadi destinasi wisata favorit lagi ke depannya," tandas Didik Gatot.