Akun Instagram salah satu cross hijaber. (Foto istimewa)

Akun Instagram salah satu cross hijaber. (Foto istimewa)



Komunitas cross hijaber yang kini sedang menjadi perbincangan panas di masyarakat, khususnya di sosial media, juga sudah muncul di Malang Raya.

Untuk diketahui, cross hijaber adalah pria yang suka berpakaian syar'i seperti wanita. Aksi yang dilakukan oleh para cross hijaber terbilang cukup berani karena nekat menggunakan hijab dan bergabung di area khusus yang diperuntukkan untuk wanita. Misalnya di masjid ataupun toilet wanita. Sebagian besar masyarakat pun menjadi resah.

Dari kacamata psikologi, ternyata dalam diri laki-laki memang mempunyai sifat feminin (sama halnya dengan perempuan yang mempunyai sifat maskulin). Nah, dalam kasus cross hijaber ini, mereka ingin menunjukkan sisi femininnya tersebut.

Hal ini dijelaskan oleh psikolog Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) Novia Solichah. "Memang kecenderungan seperti itu ada, tapi dia tidak melupakan dirinya sebagai laki-laki. Tapi itu memang sisi feminin yang dimiliki dia dan dia ingin mengaktualisasikan dirinya," terang Novi, sapaan akrabnya, kepada MalangTIMES.

Jadi, pria cross hijaber ingin menunjukkan bahwa dirinya  juga punya sisi feminin yang banyak. Tapi di sisi lain ia bukan seorang perempuan. Dia tetap laki-laki tapi yang feminin.

Memang, para cross hijaber mengaku tidak mempunyai tujuan apa pun selain hanya senang mengenakan pakaian perempuan. "Fenomena itu memang ada. Jadi, dalam diri setiap manusia itu ada. Tapi masing-masing punya kadar beda-beda (yang dominan bisa dari sisi feminin atau maskulin)," tandas Novi sekali lagi. "Barangkali kalau orang tersebut sisi femininnya itu sangat berlebihan," imbuhnya.

Menurut Novi, setiap manusia mempunyai karakteristik masing-masing dan masa lalu serta pengalaman yang berbeda. Untuk itu, menanggapi seorang cross hijaber perlu melalui proses asesmen dulu.

"Jadi, ada apa di masa konsepsi orang tuanya, saat masa kehamilan ibunya itu ada apa. Sebab, 9 bulan itu mempengaruhi seumur hidup seorang anak. Setelah itu, selama masa lima tahun (golden period) dilihat, apa jangan-jangan yang berperan waktu itu yang dominan adalah ibunya dan peran ayahnya kurang dominan," bebernya. Jadi, ketika menanggapi satu orang, banyak hal yang perlu diungkap dulu.

Namun pada intinya, setiap manusia punya sisi feminin dan maskulin yang berbeda-beda. Ada yang dominan sekali dan ada yang tidak. "Meskipun perempuan, kadangkala juga bisa layaknya laki-laki yang menghidupi keluarganya seorang diri atau ada juga perempuan yang layaknya laki-laki, tomboi, tapi dia tetap perempuan," ucapnya.

Namun Novi menegaskan, manusia, termasuk para cross hijaber, bukanlah orang yang jahat. "Kita itu selalu melihat tiap orang itu baik. Namun mereka sedang berproses menuju kebaikan. Jadi, nggak ada konsep orang jahat," tuturnya.

Tak berbeda jauh dengan Novi, Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) Prof Dr Abdul Haris MAg juga menyampaikan, orang-orang cross hijaber bukanlah untuk dimusuhi, melainkan dibantu.

"Saya kira perlu dibantu. Saya kira tidak dimusuhi. Dibantu untuk bagaimana mereka kembali," ucap Haris. 

 


End of content

No more pages to load