Rumah N di Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar.

Rumah N di Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar.



Satreskrim (Satuan Reserse Kriminal) Polres Blitar Kota memeriksa ahli kandungan dari RSD Mardi Waluyo Kota Blitar terkait hasil kondisi kehamilan oknum pasien praktik aborsi yang diduga dilakukan N. Pelaku sendiri tak lain mantan bidan.

Selain menggali informasi dari ahli kandungan, polisi juga telah melakukan pemanggilan terhadap sejumlah saksi untuk kasus ini. "Hari ini kami sudah melayangkan surat kepada Rumah Sakit Mardi Waluyo, ke Dinas Kesehatan untuk kami periksa ahli kandungan, terkait kondisi pasien yang saat itu kami mintakan visum. Kami juga melayangkan surat pemanggilan saksi yang saat itu ada di lokasi saat penggerebekan," ungkap  Kasatreskrim Polres Blitar Kota AKP Heri Sugiono, Kamis (28/03/2019).

Seluruh rangkaian pemanggilan terhadap saksi dan alhi itu bertujuan untuk mengembangkan  kasus dugaan  praktik aborsi yang dilakukan oleh N. Pengembangan kasus untuk untuk meningkatkan status perkembangan kasusnya ke tingkat penyidikan.

Diinformasikan sebelumnya, seorang perempuan bernama N (80), pensiunan bidan yang juga warga Kelurahan Kepanjenlor, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, diduga membuka praktik aborsi di kediamannya.

Dugaan itu mencuat setelah Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Blitar Kota menerima informasi dari masyarakat jika  rumah N sering digunakan praktik aborsi.

Menurut Kasatreskrim Polres Blitar Kota AKP Heri Sugiono, dugaan praktik aborsi tersebut semakin menguat ketika anggota sutuannya melakukan sidak rumah N.  Saat sidak, ada seorang calon pasien yang akan melakukan tindakan mengarah ke aborsi.

"Beberapa minggu yang lalu, kami mendapat informasi bahwa terlapor inisial N ini sering kedatangan tamu dan diduga bahwa akan melakukan aborsi. Saat itu kami melakukan penyelidikan, saat ada seseorang yang datang bersama keluarganya, anggota kami langsung masuk. Ternyata di dalam itu akan melakukan kegiatan yang tujuannya mengarah ke aborsi. Namun gagal karena ada anggota kami yang masuk," papar Heri kepada awak media.

Setelah itu, polisi membawa seorang pasien tersebut ke Rumah Sakit Mardi Waluyo. Kepentingan tersebut untuk mengetahui apakah masih hamil atau tidak. Setelah dicek, pasien itu masih hamil berumur empat bulan.

"Di sanalah kami melakukan penyelidikan dan meningkatkan ke penyidikan. Saat ini kami masih melakukan pemanggilan terhadap saksi maupun ahli. Karena kami tanyakan ke ahli apakah kegiatan ini sudah dikatakan sebagai aborsi atau belum," jelas dia.

"N ini umurya kurang lebih 80 tahun. Yang bersangkutan merupakan pensiunan perawat. Otomatis nanti akan kami panggil," sambung kasat reskrim.

Informasi yang berhasil digali dari saksi, kata dia, biaya aborsi oleh N ini kisaran Rp 5 juta. Metode praktik aborsinya diduga dengan obat dan atau operasi. "Kalau obat tidak berhasil, maka dia menggunakan aborsi dengan operasi," paparnya.


End of content

No more pages to load